.

.

Identitas Penulis

Nama : Maria Ulfah
Sekolah : MAN 2 MARTAPURA
Fb :MariaUlfah Chei Em Yuu



Kesatria Berpedang Kemoceng
Tittttttttttttt . .  . .  terdengar lengkingan klakson mobil memecah keramaian  pagi ini,semua mata tertuju pada sumber suara. Terlihat sesosok kakek tua dengan raut muka ketakutan didepan sebuah mobil putih yang terlihat mewah.
''Hey kalo jalan pakai mata pak, saya buru- buru nih !'' bentak seorang lelaki paruh baya dengan kemeja putih dan dasi yang seakan akan menunjukkan kalau laki-laki berada pada golongan atasnya.
''Maaf pak,'' jawab lelaki tua  yang terlihat berusaha berjalan menyeberangi jalan raya.
''Dasar orang tua, cepat mingir dari mobil saya sekarang,'' ketus lelaki berdasi itu kesal.
Tak berapa lama, seorang remaja putri datang menghampiri.
''Biar saya bantu kek,'' Kata seorang remaja putri dengan stelan seragam abu-abu dan kerudung yang siapa pun melihatnya tau, kalau dia seorang pelajar dari salah satu sekolah madrasah aliyah negeri di kota Martapura.
''Terimakasih nak,'' ucap kakek tua itu tersenyum.
Sesampainya di seberang jalan, mobil lelaki itu kembali melaju cepat dibalik ramainya jalan raya pagi itu.
''Kakek mau kemana??'' Tanya remaja putri itu.
''Kakek mau kerja, nak,'' jawab kakek itu singkat
''Kerja apa kek?'' lanjut remaja putri itu.
Dalam benak remaja putri itu, apa yang bisa dilakukan seorang kakek  saat dimasa rentanya ini yang seharusnya dia hanya diam dirumah melakukan kegiatan rohani dan menikmati masa tuanya.
''Kakek bekerja membersihkan mobil mobil yang melintas dijalan ini,'' jawab kakek itu dengan kemoceng yang usam ditangan kanannya. ''Cucu kakek perlu seragam sekolah, seragamnya sudah tidak pas dibadannya dan usang,'' sambung kakek dengan menghela nafas yang terasa berat, terlihat sekali dari raut mukanya kalau dia sedang menopang permasalahan yang cukup besar dalam kehidupan dimasa tuanya.
Remaja putri itu hanya bisa diam tertegun mendengar cerita si kakek.
''Nak... nak...” panggil kakek itu setelah tau remaja putri yang barusan menolongnya tidak merespon pembicaraanya barusan.
''Astaghfirullah... iya kek,'' seketika tersadar dari lamunannya tentang kehidupan kakek itu.
''Hemmmm . . .anak jaman sekarang suka sekali melamun,''  imbuh kakek itu sembari tersenyum. ''Terimakasih atas bantuannya barusan, jarang sekali anak remaja seperti kamu saat ini,'' ungkap kakek.
''Iya, sama-sama kek. Ahh... kakek  jangan terlalu berlebihan, bisa-bisa saya terbang ke langit bersama burung-burung pagi ini gara-gara dipuji seperti itu,'' jawab remaja putri dengan faras cantik itu tersipu malu.
''Kamu nak, ada ada saja. Oh iya, nama kamu siapa nak?'' Tanya kakek itu sembari duduk dibawah pohon yang rindang tak jauh dari tempat mereka barusan menyeberang.
''Nama saya Ulfah kek, saya siswi sekolah diujung jalan sana,'' jawab Ulfah
''Oh, siswi sekolah terkenal itu ya?'' ujar kakek sambil meletakan kemoceng disamping ia duduk.
''Hemmh kakek bisa saja,'' kata Ulfah yang masih terpukau dengan semangat kakek tua itu ''Kek, saya ke sekolah dulu ya, kakek hati-hati kalau menyeberang,'' pesan Ulfah setelah sadar kalau dia harus melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
''Iya nak, sekali lagi terimakasih,'' jawab kakek itu kembali tersenyum kepada Ulfah.
''Ini ada sedikit uang untuk kakek,'' sambil menyerahkan selembar uang 10.000an.
''Tidak usah nak, kakek kerja bukan untuk meminta minta,'' pungkas kakek itu. ''Kakek masih sanggup untuk bekerja,'' ungkapnya.
''Hmmmmh . .. ya sudah kek, Ulfah ke sekolah dulu, assalamu’alaikum,'' sembari bersalaman dengan kakek yang barusan dikenalnya itu. Entah mengapa rasa nyaman dan damai Ulfah rasakan ketika melihat senyuman kakek itu.
''Waalaikumsalam nak,'' jawab kakek tua itu.
Setelah kejadian itu Ulfah semakin dekat dengan kakek yang ia kenal tanpa sengaja .Ulfah sering kali datang ke tempat kakek itu walau pun hanya sekedar bercerita tentang kegiatannya di sekolah, Ulfah seperti menemukan seorang kakek dan motivator dalam hidupnya, banyak nilai-nilai kehidupan yang Ulfah dapat dari sang kakek. Sejak saat itu juga Ulfah menjadi orang yang lebih bijaksana dalam menghadapi masalah hidupnya.
''Alhamdulillah... sudah siap semua,'' kata Ulfah setelah selesai menyiapkan bawaannya ke sekolah pagi ini.
Hari ini Ulfah berniat memberikan seragam sekolah yang dibelinya tempo hari dengan menggunakan uang tabungannya sendiri, untuk cucu kakek yang telah didambakan sejak lama.Setelah sarapan Ulfah berangkat sekolah dengan sepedanya, sudah terbayang betapa senangnya kakek ketika melihat cucunya kini telah memiliki seragam baru.
Sesampai ditempat biasanya mereka bertemu Ulfah segera mencari sang kakek, mata ulfah sibuk mencari sosok tua dibalik ramainya jalanan pagi itu, akan tetapi  ia tidak menemukan kakek itu.
''Hemmm... kakek mana ya ?? Sudah hampir 15 menit aku disini,'' ucap Ulfah dalam hati merasa sedikit kecewa.
Ada rasa kecewa dan khawatir dilubuk hati Ulfah saat ini, kini ia duduk dibawah pohon yang biasanya ia duduk bersama kakek.
''Apa kakek sakit, ya,'' kata hati Ulfah bertanya.
''Assalamu'alaikum, ka,'' sapa seorang anak tiba-tiba.
''Wa'alaikumsalam,'' jawab ulfah dan tersadar dari lamunan panjangnya
''Kakak mencari kakek, ya ?'' tanya anak itu. Sepertinya anak itu telah terbiasa melihat Ulfah bersama dengan sang kakek.
''Iya dek, kakek kemana ya ?'' tanya Ulfah.
Sepertinya Ulfah tidak bisa menahan rasa khawatinya kepada sosok tua yang telah memberikan banyak pelajaran dalam hidupnya.
''Kakek tidak akan datang, kak,'' jawab anak itu. ''Sebaiknya kakak ke sekolah saja,'' sambung anak itu dengan raut wajah yang seakan-akan mengisyaratkan kabar buruk telah terjadi.
''Kenapa dek ??'' tanya Ulfah lagi. Sepertinya dia sudah tau apa maksud dari anak kecil itu, namun Ulfah menepis rasa itu dalam pikiranya.
''Kemarin sore, kakek terkena musibah, kak,'' kata anak itu. ''Kakek tertabrak mobil dan  itu menjadi hari terakhir kakek,'' terang anak itu dengan raut muka sedih.
Seketika matahari kini redup seakan-akan tau apa yang kini dirasakan Ulfah, tak terasa butir-butir air bening keluar dibalik pelupuk matanya. Ada seribu rasa yang berkecamuk dalam hatinya yang siap-siap meletus. Seseorang yang memberikan dia banyak pelajaran kini telah tiada. Hanya ada sebait doa yang kini terlintas dalam pikiran Ulfah... ''Semoga beliau diterima disisiNYA... selamat jalan kesatria berpedang kemoceng.....''









0 komentar:

Posting Komentar

 
Top