.

.


Memandang mentari meniti serpihan kaca
Berjalan perlahan diluasnya ladang
Terbakar menghitam kulit ronamu
wajah memerah menahan panas sang surya
Satu dua seribu bahkan sejuta tetes peluhmu
Terlukis dipakaian bersihmu.
kotor debu jadi hambatan penglihatan mu
dan tak ayal  harga diri meniup asa mu
Nanar mata diam menatap pelangi
Membelai lembut menggoda tutupi terang
menunggu rebahkan sayapnya
berbaring dibangku tua ditemani tiga bunga
Lelah kan jadi Indah
saat melihat buah hati menyambut kedatangannya
Sekilas senyum mempesona merayu hatinya
Ayah.. ayah bosankah setiap hari begini.
apakah ayah lelah seperti ini.. tidak  nak asal kamu bisa menikmatinya..
sampai kapan yah..sampai peluh ini jadi permata mu nak
sampai lelah ini berkalang tanah
sampai kau jadi bintang yang menyilaukan 
sampai dunia dalam genggaman mu nak
Segenap suara kasih elok mempesona
Engkau adalah lampion ku
Engkau lampu digelapnya kehidupan ku
Terimakasih ayah….
atas tulus cinta kasihmu.
atas perlindungan mu dari para serdadu
sejuta permata pun tak cukup ku hadiahkan untuk mu
tetes peluh mu tak bisa ku gantikan dengan laut
Ayah… 
jangan lambaikan tangan mu untuk ku.


 Pengarang : Gusti Mawaddah
Sekolah : MAN 2 Martapura
Twitter : @Gusti_Mawaddah1

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top