![]() |
| Penulis Artikel : Dema Hettrich |
Bully atau intimidasi di
sekolah-sekolah masih cukup marak terjadi saat ini. Perbedaan derajat, skill,
materi bahkan fisik menjadi alasan mengapa siswa yang memiliki 'level tinggi'
mengintimidasi siswa yang 'levelnya' jauh dari standar siswa level tinggi.
Berbagai macam bentuk intimidasi dari kekerasan fisik
(memukul, menendang dan ancaman), menyerang langsung kondisi psikis atau jiwa
siswa yang bersangkutan (mengejek, memfitnah, menjadikan kambing hitam dan
teror) serta memanfaatkan kelemahan seseorang untuk mencapai kepuasan pribadi
atau kelompok (dijadikan 'budak' dan disuruh melakukan hal-hal yang diinginkan
oleh kelompok siswa yang levelnya lebih tinggi).
Intimidasi berupa kekerasan fisik
memang jarang terjadi, lebih mengarah kepada ancaman dan gertakan yang
menyudutkan kondisi psikis / jiwa siswa yang diintimidasi. Setelahnya, siswa
yang diintimidasi akan mendapatkan 2 pilihan, mau terus diancam hingga kontak
fisik langsung, atau menjadi 'budak' untuk kelompok yang memiliki level tinggi.
Kebanyakan siswa yang diintimidasi itu akan cenderung
memilih pilihan yang kedua, menjadi 'budak'. Namun memilih untuk menjadi budak
juga didasari oleh berbagai hal, diantaranya karena memang takut oleh
ancaman-ancaman serta kontak fisik, ada pula berpura-pura patuh dan hormat
kepada kelompok level tinggi agar terhindar dari ancaman dan kontak fisik itu
tadi.
Berbagai macam intimidasi itu
saling berkaitan satu sama lainnya. Misalnya siswa yang merasa atau bahkan
mengakui dirinya lemah dan berlevel rendah, akan secara perlahan masuk ke
kelompok level tinggi dengan tujuan mendapatkan perlindungan dari ancaman
kelompok lainnya. Caranya? Kembali ke pembahasan diatas, siswa level rendah itu
mau menjadi 'budak' kelompok level tinggi.
Siswa yang diintimidasi biasanya
yang memiliki karakter pendiam dan penakut, pasalnya kondisi jiwa mereka masih
belum stabil ketika mendapatkan ancaman dan sebagainya. Mereka takut untuk
memberitahukan kepada guru dan orang tua bahwa mereka sedang diintimidasi,
lebih memilih untuk memendamnya sendiri.
Masalah yang terjadi didalam ruang
lingkup keluarga bisa dikatakan menjadi asal mula kasus intimidasi terjadi.
Seseorang yang mendapatkan masalah keluarga, akan melampiaskan kekesalannya /
amarahnya dengan menjadi 'pendiri atau ketua' dari suatu kelompok yang berlevel
tinggi, walaupun sebenarnya dirinya pribadi merupakan sosok yang lemah. Posisi
terburuknya apabila seseorang mendapatkan masalah keluarga, dia akan menjadi
pendiam dan sering melamun, sasaran empuk bagi kelompok level tinggi untuk
mengintimidasinya.
Kalau sudah begini, akan terus bermunculan kelompok-kelompok
(genk) dalam kelas / sekolah yang mengarah kearah negatif berdasarkan level
masing-masing.
Peran aktif guru terhadap siswa dan
orang tua terhadap anak dalam mengawasi dan memberikan pelayanan gratis berupa
konsultasi serta pendekatan emosional kepada mereka, menjadi salah satu solusi
atau cara untuk mencegah kasus
intimidasi.

0 komentar:
Posting Komentar