.

.


Tidak hanya sekolah formal yang diberikan kepada anak dalam menambah dan memberikan berbagai macam pengetahuan, kita sekarang mengenal dengan istilah homeschooling.
Ya, homeschooling menjadi salah satu pilihan alternative dalam dunia pendidikan. Ketika wartawan Tabloid New Bschool berkunjung kekediaman Mr. Timothy Webel di kawasan Mentaos Banjarbaru, sambutan hangat dan ramah diberikan oleh keluarganya. Terlihat senyuman manis dari anak kedua Timothy, Abigail dan juga anak bungsunya, Elijah, terpancar jelas dari wajah mereka.




Tak lama berselang, Mr Timothy dan juga Mrs Tiffany, mempersilakan kami masuk dan menuju dimana homeschooling ala mereka dilaksanakan. Suasana rumah dan tata ruang untuk kegiatan homeschooling patut diacungi jempol, begitu nyaman dan bersih untuk digunakan sebagai ruangan belajar.
Timothy Webel dengan pembawaannya yang santai mengatakan, homeschooling di Amerika Serikat menjadi pola baru bagi dunia pendidikan disana.
“Kebanyakan masyarakat di Amerika Serikat mengambil tanggung jawab untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka sendiri. Biasanya, disana ayah atau ibu yang berada di rumah sebagai pengajarnya,” jelas pria yang kerap disapa Pak Tim ini.
Tim menambahkan, ada beberapa alasan mengapa masyarakat disana menjalani homeschooling. Namun bagi Tim sendiri mengapa dirinya menjalani homeschooling bagi anak-anaknya, dikarenakan ketika dulu anak-anaknya sekolah formal / umum di Kota Banjarbaru, mereka mengalami kesulitan dalam hal membaca dan menulis Bahasa Indonesia.
“Anak kami merasa bingung karena penulisan huruf dan suara huruf Indonesia sangat jauh berbeda dengan bahasa kami. Saat ini lebih baik kami mengajari mereka di rumah sendiri saja, karena kami bisa fokus kepada anak-anak kami sendiri,” terang pria kelahiran Florida, USA.
Tim melanjutkan, ketika anak-anak mereka (Emily Webel, Abigail Webel and Elijah Webel) bersekolah umum di Indonesia, hanya untuk bersosialisasi saja dengan tingkatan umur dan sekolah yang sama.
Terkait dengan peraturan hukum mengenai homeschooling, Tim menyampaikan, ketika ada warga negaranya berada diluar negeri, Pemerintah Amerika Serikat tidak bisa terlalu sering ‘kontrol up’ warganya. “Hanya saja setiap 2 tahun sekali dipantau, karena kondisi disana berbeda, tidak ada ujian setiap tahun untuk naik kelas atau kelulusan. Jadi istri saya bergabung dalam sebuah perkumpulan homeschooling, disana ada orang khusus yang memberikan ujian kepada anak-anak kami yang homeschooling. Orang tersebut harus mempunyai sertifikasi agar bisa memberikan ujian,” papar Tim yang mempunyai hobi fotografi ini.


Berbeda dengan homeschooling di Indonesia yang memanggil seorang guru khusus dari luar, Homeschooling di Amerika Serikat cukup orang tua sendiri yang memberikan pelajaran atau sebagai gurunya langsung. Di Homeschooling, istri Timothy (Mrs Tiffany, red) yang lebih dominan dalam memberikan pelajaran, Tim juga ikut membantu. Homeschooling yang dilaksanakan dari Hari Senin hingga Jum’at ini dalam hal jadwal pelajaran, diatur langsung oleh sang istri, Tiffany, atau tergantung dari kondisi yang ada. Dengan kata lain, homeschooling ini bersifat fleksibel, anak-anak bisa juga memutuskan sendiri ingin belajar apa.
“Mau matematika dulu atau tata bahasa, itu terserah anak-anak. Respon anak sangat baik, karena itu kebutuhan khusus untuk mereka. Ketika homeschooling berlangsung, kami memberikan mereka kesempatan untuk bermain. Kalau dari penilaian, kami sebagai orang tua mereka harus sabar karena anak sendiri, dari mereka bangun pagi hingga tidur malam, itu ada penilaiannya,” lugas pria kelahiran 12 Oktober 1979 silam ini.
Tiffany Webel, istri dari Timothy Webel juga memberikan gambarannya terkait dengan homeschooling. Ketika dirinya dan juga sang suami mempunyai kesibukan lain diluar, pada saat yang bersamaan ada jadwal untuk homeschooling, maka homeschooling bisa diganti hari lain, karena bagi mereka walaupun tanggal merah tidak ada libur untuk homeschooling.
“Kami disini belajar membaca, matematika, sains, sejarah, al-kitab, tata bahasa, seni dan budaya serta bahasa Indonesia. Namun kami fokuskan kepelajaran matematika dan membaca. Dulu Emily sekolah playgroup umur 4 tahun disini (Indonesia). Ketika saya mengajarkan huruf dan tulisan Bahasa Indonesia, awalnya mereka mengalami kesulitan. Nanti apabila mereka sudah lancar belajar membaca Bahasa Inggris, selanjutnya kami akan mengajari mereka Bahasa Indonesia. Tapi untuk berbicara Bahasa Indonesia, mereka sudah bisa,” kata Tiffany menjelaskan.
Untuk pelajaran matematika dan cara menggunakan komputer diberikan setiap hari, sedangkan pelajaran sains dan seni budaya diberikan setiap seminggu sekali. “Emily dan Abigail lebih menyukai sejarah, karena kurikulum yang saya berikan bagus sekali. Saya memberikan mereka buku sejarah yang bergambar dan sesuai dengan umur anak-anak,” lugas Tiffany.

Dalam 1 hari, homeschooling diberikan selama 3 hingga 4 jam. Dari durasi waktu tersebut, Tiffany tidak hanya terfokus untuk memberikan pelajaran disatu tempat seperti duduk dan memperhatikan, Tiffany juga membacakan cerita dan sebagainya agar homeschooling lebih natural, sehingga anak tidak terlalu cepat merasa bosan.
“Sebenarnya bukan merasa bosan, melainkan rasa frustrasi karena disini 1 orang guru, yaitu saya, hanya terfokus kepada 1 hingga 2 orang anak saja (Emily dan Abigail). Jadi mereka merasa lebih terbebani atau berat untuk pelajaran yang kami berikan. Saya coba untuk memberikan mereka waktu istirahat, belajar selama 20 menit dulu, kemudian mereka bisa bermain keluar agar mereka tidak terlalu merasa frustrasi,” jelas wanita kelahiran 15 Mei 1980 di Florida, USA.
Emily Webel (anak pertama, yang tahun 2013 ini masih berusia 7 tahun) mempunyai sedikit perbedaan dalam hal pemberian pelajaran dari Abigail (anak kedua, 5 tahun). Apabila Emily sudah bisa menulis dan lain sebagainya, sementara Abigail dalam tahap belajar menulis dan membaca. Namun, dari segi mata pelajaran yang lainnya diberikan dengan porsi yang sama rata.

“Tingkat kelulusannya fleksibel saja, tidak terlalu fokus harus menunggu beberapa tahun atau dengan ujian setiap tahunnya. Dari homeschooling ini bisa melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi (kuliah, Red) untuk di Amerika Serikat khususnya,” kata wanita ramah dan murah senyum ini.Ternyata, untuk mengikuti kegiatan belajar dan mengajar (sekolah) di Amerika Serikat digratiskan oleh pemerintah setempat, penduduknya hanya diwajibkan untuk membayar pajak. (Dema/Anis)

1 komentar:

 
Top